Klarifikasi Berita Pembegalan di Getassrabi

Bagikan Artikel Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beberapa saat yang lalu beredar kabar terjadinya pembegalan di Getassrabi. Tepatnya di utara Lapangan Sipengkok. Media online www.isknews.com menulis bahwa telah terjadi pembegalan di desa Getassrabi, tepatnya utara Lapangan Sipengkok pada Sabtu (04/03/2017) malam. Disebutkan bahwa korban adalah seorang perempuan asal Desa Getassrabi. Sampai berita ini ditulis, tercatat ada 139 komentar netizen yang muncul di fanpage Info Seputar Kudus mengenai topik ini. Sebagian diantaranya menyebut bahwa Desa Getassrabi rawan keamanan karena terjadinya berbagai tindak kriminalitas di kawasan ini.

Kusnadi, Ketua Karang Taruna Bhakti Mekar Abadi RW 05 Desa Getassrabi yang kebetulan berada di lokasi kejadian menyebut bahwa pemberitaan tersebut tidak benar, bahkan meminta share informasi ini agar dihentikan karena menyebabkan keresahan masyarakat serta menimbulkan stereotype negatif terhadap desa Getassrabi.

Kronologi Kejadian “Pembegalan”

Dalam penjelasannya kepada darussalamcentre, Kusnadi menyebut bahwa kejadian tersebut bukanlah pembegalan, melainkan adanya miskomunikasi. Gadis berinisial KS yang disebutkan dalam berita di media online, bukanlah korban penjambretan melainkan korban laka lantas tunggal (terjatuh sendiri). “Intinya, Sabtu sore, sekitar pukul 15.00, dia (KS, -red) pergi mengendarai sepeda motor pinjaman dari temannya kemudian terjatuh di sekitar pertigaan Wage. Saat terjatuh dia ditolong oleh warga yang sedang melintas dan akan dibawa ke rumah sakit. KS menolak dan minta diantarkan saja ke kost temannya di Desa Kaliwungu,” jelasnya. Penolong bernama Hasyim, warga dukuh Kebangsan.

Malam harinya, KS menghubungi Hasyim hendak meminjam uang untuk berobat dan memperbaiki motor yang rusak. Hasyim berinisiatif menghubungi pihak keluarga. “Karena takut sendirian, KS dikawal dari belakang oleh temannya.”

Kusnadi menambahkan, KS berteriak histeris saat dijemput oleh orang tuanya di Lapangan Sipengkok. “Bisa jadi dia takut dimarahi oleh orang tuanya sehingga berteriak histeris. Sepeda motor KS bisa dihentikan, sementara teman yang mengawal tadi langsung pergi. Mungkin teriakan itulah yang menyebabkan sebagian warga mengira telah terjadi penjambretan.” Akhirnya KS bersedia diajak pulang pada pukul 00.30.

Kusnadi berharap peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi semua, agar melakukan klarifikasi sebelum menyebarkan sebuah berita, termasuk berkomentar di media sosial.

Baca juga


Bagikan Artikel Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *